Yuk, Menghitung Ikan di Laut!
Nah, penelitian tentang estimasi kuantitatif ikan-ikan yang di ada lautan khususnya di daerah terumbu karang telah dilakukan selama bertahun-tahun di Great Barrier Reef (GBR) yang sebagian besar menggunakan sensus visual, dan saat ini juga dilakukan di Indonesia. Penelitian tersebut dilaksanakan oleh Australian Institute of Marine Science (AIMS) dan Great Barrier Reef Marine Park Authority (GBRMPA). Metode yang digunakan dalam pengamatan ikan terumbu merupakan metode yang telah mengalami perubahan-perubahan yang dihasilkan selama dua kali workshop tentang penaksiran ikan terumbu dan pemantauan (monitoring) pada tahun 1978 dan 1979. Teknik visual sensus pada waktu itu dilaksanakan dan dikembangkan dengan sangat berhasil dengan diadopsi dari the Long-term Monitoring Program (LTMP) untuk survey populasi ikan karang.
Teknik Sensus Visual untuk mengestimasi populasi ikan terumbu ini menunjukkan hasil yang relatif akurat dan dengan biaya yang efisien. Teknik ini ideal digunakan untuk memantau kelimpahan ikan terumbu sehingga bisa diketahui tingkat komunitas ikan tanpa merusak ekosistem terumbu karang. Teknik ini juga sudah diadopsi oleh berbagai lembaga atau perguruan tinggi dalam memantau kondisi populasi ikan-ikan di terumbu karang. Misalnya yang diterapkan oleh Fisheries Diving Club Institut Pertanian Bogor (FDC-IPB) dan Yayasan Terumbu Karang Indonesia (TERANGI) dalam memonitoring kondisi ekosistem terumbu karang di Kepulauan Seribu.
Metode visual sensus dilakukan dengan menggunakan metode kombinasi dari transek menyinggung (Line intercept transect), dan transek quadrat (quadrat transect). Dengan bentuk pengamatan yang sederhana, metode visual sensus dilakukan oleh observer yang dilengkapi dengan alat SCUBA dan menaksir kelimpahan ikan di area yang telah ditentukan (di dalam jangkauan transek). Namun, kelemahan dari sensus visual adalah adanya kemungkinan perbedaan antara observer satu dengan yang lain dalam perhitungan ikan, yang disebabkan oleh sifat ikan yang dinamis dan kompleksnya habitat yang ditempati. Selain itu, bias dari observer dalam menentukan jenis ikan di dalam air. Oleh karena itu, dalam pengambilan data sebaiknya dilakukan oleh dua orang yang dapat digunakan sebagai perbandingan, atau menggunakan satu orang pendata dalam satu wilayah pengamatan secara konsisten.
Beberapa pertimbangan dan langkah umum dalam survei visual ikan di terumbu karang adalah (1) pemilihan rancangan sampling sangat ditentukan oleh lokasi penelitian dan tujuan dari pencatatan data ikan terumbu itu dilakukan. Pemilihan lokasi merupakan faktor yang sangat penting dilakukan sebelum dilakukannya pengamatan karena dapat menentukan dalam pemakaian salah satu metode pendataan ikan, misalnya pendataan dilakukan di rataan terumbu (reef flat), tubiran (reef crest) atau lereng terumbu (reef slope) akan memerlukan penyesuaian metode pada masing-masing daerah tersebut; (2) proses pendataan yang melibatkan 2 orang atau lebih yang diperlengkapi dengan 2 set lengkap alat SCUBA, sabak (papan/ kertas untuk tempat menulis dalam air), pensil, data sheet, dan roll meter (50 m atau 100 m); dan (3) proses identifikasi ikan, manajemen data dan analisa data ikan yang disesuaikan dengan tujuan survei penelitian.
Tentunya, dengan masih maraknya eksploitasi ikan yang tidak dibarengi dengan manajemen yang baik, pendataan ikan di laut sangat penting artinya untuk menjaga nilai konservasi dan keberlanjutan dari berbagai organisme yang ada di lautan. Semoga laut Indonesia tetap lestari!








0 Response to "Yuk, Menghitung Ikan di Laut!"
Post a Comment